Mata Hukum, Jakarta – Ditembak jatuhnya dua jet tempur Amerika Serikat oleh Iran dinilai memiliki arti strategis dan simbolis yang besar dalam dinamika konflik kedua negara.

Insiden tersebut bukan hanya berdampak militer, tetapi juga menyentuh aspek politik dan kredibilitas global Amerika Serikat.
Direktur Council for Arab-British Understanding (CAABU), Chris Doyle, menyebut peristiwa ini penting bagi Iran, terutama dari sisi prestise internasional.
“Penting bagi Iran dalam hal prestise,” kata Doyle, dikutip dari Al Jazeera pada, Minggu 4 April 2026.
Menurutnya, keberhasilan Iran menembak jatuh jet tempur F-15 dan A-10 Warthog menunjukkan bahwa Teheran mampu menantang kekuatan militer negara adidaya.
Ia menilai kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada awal konflik, ketika Presiden AS Donald Trump diyakini dapat mengakhiri perang dengan cepat.
“Donald Trump berkata kepada sekutunya, ‘saya tidak butuh bantuan Anda.’ Namun, jauh dari itu, sekarang dia tampak putus asa; tampak kacau di dalam Gedung Putih,” ujar Doyle.
Doyle juga menyoroti dinamika di tubuh militer AS. Ia menyinggung keputusan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang memecat tiga jenderal angkatan darat, termasuk Kepala Staf AD Jenderal Randy George.
“Kita melihat Pentagon di bawah Hegseth; dia memecat para jenderal. Tampaknya kepemimpinan Amerika tidak bisa mengendalikan apa yang sedang terjadi,” katanya.
Lebih lanjut, Doyle menjelaskan bahwa dalam banyak konflik di Timur Tengah, Amerika Serikat kerap memperluas misi militernya melampaui tujuan awal. Namun, dalam kasus Iran, situasinya justru berbeda.
Ia menyebut pada awalnya Trump memiliki misi perubahan rezim di Iran, tetapi belakangan pernyataan itu berubah.
“Sekarang kita melihat Trump dan yang lainnya mengatakan, ‘Oh, tidak, kita tidak akan melakukan perubahan rezim’,” ujarnya.
Doyle memandang strategi Washington saat ini seperti kehilangan arah, sementara Iran dinilai lebih terukur dalam menentukan langkah.
“Iran dapat meningkatkan eskalasi sesuka hati dan memperluas konflik ketika dibutuhkan seperti yang kita lihat, misalnya, dengan serangan rudal Houthi baru-baru ini terhadap Israel,” kata dia.
Ia menegaskan, kegagalan mengatasi insiden jatuhnya pesawat tempur dapat berdampak pada posisi Amerika Serikat di mata dunia.
“Hal itu juga semakin dipertegas oleh hilangnya pesawat-pesawat ini, yang sangat mahal. US$100 juta, F-15 bukanlah pesawat yang bisa dianggap remeh,” ucap Doyle.
Iran Klaim Gagalkan Misi AS, 3 Pesawat Ditembak Jatuh di Isfahan
Angkatan Bersenjata Iran mengklaim berhasil menggagalkan upaya penyelamatan seorang pilot oleh Amerika Serikat dengan menjatuhkan sejumlah pesawat di wilayah selatan Isfahan.
Dikutip dari kantor berita Tasmin, pesawat yang ditembak jatuh dilaporkan termasuk dua helikopter Black Hawk dan satu pesawat angkut militer C-130. Seluruhnya disebut terkena serangan dan terbakar di area tersebut.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran pada Minggu, 5 April, menyatakan bahwa pasukan militer Iran telah menghancurkan sejumlah pesawat AS, sekaligus menggagalkan misi penyelamatan pilot tempur Amerika yang jatuh.
Menurutnya, insiden ini terjadi setelah upaya pasukan AS untuk menyusup ke wilayah Iran tengah guna mengevakuasi pilot tersebut.
Ia menambahkan bahwa operasi gabungan yang melibatkan pasukan kedirgantaraan dan darat, unit sukarelawan Basij, serta aparat penegak hukum berhasil mencegat dan melumpuhkan pesawat yang masuk.
Operasi tersebut disebut mengakibatkan kehancuran sejumlah pesawat musuh dan dianggap sebagai kekalahan bagi Amerika Serikat.
Peristiwa ini bahkan dibandingkan dengan kegagalan Operation Eagle Claw pada April 1980.
Juru bicara itu juga menyebut Presiden AS Donald Trump berupaya meremehkan insiden tersebut melalui media sosial dengan mengklaim bahwa operasi penyelamatan tetap berhasil dilakukan.

