Bharada Richard Eliezer Diputus Demosi Setahun Dalam Sidang Kode Etik

0

“Karopenmas Brigjen Pol Ramadhan: Sanksi administratif, yaitu mutasi bersifat demosi selama 1 tahun dan Eliezer didemosi ke Yanma Polri”

Bharada Richard Eliezer saat menjalani sidang kode etik profesi. (Istimewa)

Mata-Hukum, Jakarta – Polri telah rampung menggelar sidang kode etik terhadap Bharada Richard Eliezer atas pelanggarannya dalam pembunuhan Brigadir Yosua.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan, Eliezer melakukan pelanggaran atas perbuatannya yang menembak Brigadir Yosua di Kompleks Polri Duren Tiga Nomor 46, Jakarta Selatan.

Bharada Richard Eliezer saat bertugas di Brimob Polri. (Istimewa)


“Terduga pelanggar telah melakukan penembakan terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat,” kata Ramadhan kepada wartawan, Rabu (22/2).
“Serta menggunakan senjata api Polri jenis pistol merek Glock nomor senpi MPF851 tidak sesuai dengan ketentuan,” sambung dia.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan. (Istimewa)


Atas perbuatannya itu, Eliezer terbukti melanggar Pasal 13 Ayat 1 PP Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri Juncto Pasal 5 Ayat 1 huruf o dan atau Pasal 6 Ayat 2 huruf b dan atau Pasal 8 huruf b dan huruf c dan atau Pasal 10 Ayat 1 huruf f dan atau Pasal 10 Ayat 1 huruf a angka 5 Perpol Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Polri.

Bharada Richard Eliezer saat menjalani sidang kode etik profesi. (Istimewa)

Atas hal tersebut, perangkat komisi sidang memutuskan bahwa tindakan Eliezer adalah perbuatan tercela. Dia pun diharuskan untuk menyampaikan permintaan maaf terhadap pimpinan Polri.

“Sanksi administratif, yaitu mutasi bersifat demosi selama 1 tahun,” ungkap Ramadhan. Eliezer didemosi ke Yanma Polri.
Atas putusan tersebut, Eliezer menyatakan menerimanya dan tak mengajukan banding.

Bharada Richard Eliezer (kiri) bersama rekannya saat bertugas di Brimob Polri. (Istimewa)


“Saudara Richard Eliezer menyatakan menerima,” pungkas Ramadhan.
Berikut isi putusan sidang etik Bharada Richard Eliezer yang diumumkan Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan:
Atas nama bripka RR, saudara KM dan saudara FS tidak hadir dan keterangannya dibacakan dalam persidangan. Hal ini karena terkait wujud perbuatannya sudah dibuktikan dalam persidangan pidana di pengadilan Jakarta Selatan.

Bharada Richard Eliezer saat menyapa para pengunjung sidang di ruang persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Istimewa)

Sedangkan untuk saksi atas nama Kombes Pol MP, dan Iptu JA tidak hadir dan keterangannya dibacakan, kedua orang tersebut karena sakit.
Kemudian wujud perbuatan, terduga pelanggar telah melakukan penembakan terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat di kompleks Polri Duren Tiga Nomor 46 Jakarta Selatan serta menggunakan senjata api Polri jenis pistol merek Glock nomor senpi MPF851 tidak sesuai dengan ketentuan.

Pasal yang dilanggar, Pasal 13 ayat 1 pp nomor 1 tahun 2003 tentang pemberhentian anggota Polri juncto Pasal 5 ayat 1 huruf o dan atau Pasal 6 ayat 2 huruf b dan atau Pasal 8 huruf b dan huruf c dan atau Pasal 10 ayat 1 huruf f dan atau pasal 10 ayat 1 huruf a angka 5 Perpol Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Polri.
Pertimbangan hukum:

  1. Terduga pelanggar belum pernah dihukum karena melakukan pelanggaran, baik disiplin, kode etik, maupun pidana
  2. Terduga pelanggar mengakui kesalahan dan menyesali perbuatan
  3. Terduga pelanggar telah menjadi justice collaborator atau saksi pelaku yang bekerja sama, di mana pelaku yang lainnya dalam sidang pidana Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berusaha mengaburkan fakta yang sebenarnya dengan berbagai cara, merusak, menghilangkan barang bukti dan memanfaatkan pengaruh kekuasaan. Tetapi justru kejujuran terduga pelanggar dengan berbagai risiko telah turut mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi.
  4. Terduga pelanggar bersikap sopan dan bekerja sama dengan baik selama di persidangan sehingga sidang berjalan lancar dan terbuka
  5. Terduga pelanggar masih berusia muda, masih berusia 24 tahun, masih berpeluang memiliki masa depan yang baik apalagi dia sudah menyesali perbuatannya serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya di kemudian hari
  6. Adanya permintaan maaf dari terduga pelanggar kepada keluarga Brigadir Yosua, di mana saat persidangan pidana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, terduga pelanggar telah mendatangi pihak keluarga Brigadir Yosua, bersimpuh, dan meminta maaf atas perbuatan yang terpaksa sehingga keluarga Brigadir Yosua memberikan maaf.
  7. Semua tindakan yang dilakukan terduga pelanggar dalam keadaan terpaksa dan karena tidak berani menolak perintah atasan.
  8. Terduga pelanggar yang berpangkat bharada atau tamtama Polri tak berani menolak perintah menembak Brigadir J dan saudara FS karena selain atasan jenjang kepangkatan saudara FS dengan terduga pelanggar sangat jauh
  9. Dengan bantuan terduga, pelanggar yang mau bekerja sama dan memberikan keterangan yang sejujurnya sehingga perkara meninggalnya Brigadir J dapat terungkap
    Sesuai Pasal 13 ayat 1 huruf a PP 1/2003 maka komisi selaku pejabat yang berwenang memberikan pertimbangan, selanjutnya berpendapat bahwa terduga pelanggar masih dapat dipertahankan untuk tetap berada dalam dinas Polri.
    Putusan KKEP:

A. Sanksi bersifat etika yaitu:
a. Perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela
b. Kewajiban pelanggar meminta maaf secara lisan di hadapan sidang KKEP dam secara tertulis kepada pimpinan Polri.

B. Sanksi administratif yaitu mutasi bersifat demosi selama 1 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *