“Juru Bicara Kantor SAR Manado Nuriadin Gumeleng dalam keterangan video yang dikonfirmasi dari Jakarta, Kamis, mengatakan korban meninggal seorang perempuan, DL (70), akibat tertimpa reruntuhan bangunan”
Mata Hukum, Jakarta – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa, menyampaikan gempa bumi magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara pada, Kamis 2 April 2026, pagi memicu tsunami dengan ketinggian 30 cm.

Menurut Gede Eriksana Yasa, gempa terjadi sekitar pukul 07.48 WIT dengan kedalaman 62 kilometer dan bersumber dari aktivitas tektonik di Laut Maluku.
“Tadi pagi, tepatnya pukul 07.48 WIT, gempa berkekuatan 7,6 dengan kedalaman 62 kilometer,” ungkap Gede.

Dalam kesempatan tersebut, Gede juga menjelaskan, gelombang tsunami kecil telah terpantau di sejumlah wilayah, termasuk Bitung dan sebagian kawasan Halmahera, dengan tinggi muka air sekitar 30 sentimeter.
“Namun yang sudah terjadi di Bitung dan di Halmahera, tsunami yang terpantau hanya berketinggian sekitar 30 sentimeter,” tuturnya.
Dampak guncangan paling terasa di wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera yang berada di Provinsi Maluku Utara.
Meski demikian, kerusakan yang dilaporkan hingga saat ini belum tergolong berat. Sebagian besar hanya berupa plester bangunan yang jatuh, tanpa adanya laporan rumah roboh.
“Kerusakan tidak terlalu signifikan, hanya plester yang jatuh, tidak ada rumah yang roboh,” kata Gede.
Hingga kini, pihak BMKG juga belum menerima laporan resmi mengenai korban jiwa akibat gempa tersebut.
Basarnas: Satu warga meninggal akibat gempa di Manado
Basarnas sementara ini mencatat satu warga di Manado meninggal dunia akibat gempa bumi bermagnitudo 7,6 yang bersumber dari wilayah tenggara Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, Kamis pagi.
Juru Bicara Kantor SAR Manado Nuriadin Gumeleng dalam keterangan video yang dikonfirmasi dari Jakarta, Kamis, mengatakan korban meninggal seorang perempuan, DL (70), akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
“Korban meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan gedung dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara,” kata dia.
Ia menjelaskan gempa menyebabkan kerusakan sejumlah bangunan di Kota Manado, salah satunya Gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setempat yang dilaporkan mengalami keruntuhan pada beberapa bagian.
Selain korban meninggal, Basarnas juga menerima laporan adanya dugaan korban lain yang masih dalam proses pendataan.
“Ada informasi dua korban yang melompat dari bangunan, namun masih kami dalami,” katanya.
Nuriadin mengatakan pasca-gempa, sebagian masyarakat di wilayah pesisir, seperti Bitung dan Minahasa Tenggara, telah melakukan evakuasi mandiri, menyusul informasi potensi tsunami.
Meski demikian, aktivitas masyarakat di Kota Manado secara umum mulai kembali normal.
Basarnas memastikan terus melakukan pemantauan dan pendataan di lapangan guna memastikan kondisi terkini serta penanganan terhadap korban terdampak gempa.

