09.09.2026
Mata Hukum
Home » Dibuka Menbud Fadli Zon Bersama Dubes Junimart “Indonesia Kembali Hadir di Venice Biennale 2026”
Global MatahukumNews

Dibuka Menbud Fadli Zon Bersama Dubes Junimart “Indonesia Kembali Hadir di Venice Biennale 2026”

“Melalui pameran “Printing the Unprinted”, Paviliun Indonesia tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga menawarkan cara pandang tentang sejarah, imajinasi, dan masa depan kebudayaan”

Mata Hukum, Jakarta – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia kembali menghadirkan Paviliun Indonesia pada Pameran Seni Internasional ke-61 La Biennale di Venesia, Italia.

Dikutip dari laman media sosial Instagram Junimart Girsang pada, Rabu 12 Mei 2026, Pameran Seni Internasional ke-61 La Biennale di Venesia, Italia atau Venice Biennale 2026 tersebut dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon dan dihadiri langsung oleh ‎Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Italia, merangkap Malta, Siprus, dan San Marino, Prof. Dr. Junimart Girsang.

Dalam kesempatan tersebut Dubes Junimart mengungkapkan bahwa Venice Biennale 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya diplomasi kebudayaan Indonesia untuk memperkuat posisi seni rupa Indonesia di panggung internasional.

“Venice Biennale 2026 menjadi bagian dari upaya diplomasi kebudayaan Indonesia untuk memperkuat posisi seni rupa Indonesia di panggung internasional”, tutur Dubes Junimart.

Untuk diketahui, Mengusung tajuk “Printing the Unprinted”, Paviliun Indonesia diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan.

Venice Biennale 2026 juga di dukung oleh Danantara Indonesia Trust Fund, serta kolaborasi bersama Scuola Internazionale di Grafica, Negeri Elok, Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, dan Venice Art Factory. Paviliun Indonesia ini berlokasi di Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio 1798, Venesia, dengan hari pratinjau pada 7 Mei 2026 dan masa pameran berlangsung pada 9 Mei–22 November 2026.

Paviliun Indonesia dikuratori oleh Aminudin TH Siregar. Dalam proses kuratorialnya, Scuola Internazionale di Grafica dipilih sebagai lokasi paviliun karena memiliki kedekatan dengan praktik seni grafis, cetak, dan produksi artistik berbasis proses. Dengan pendekatan ini, karya tidak hanya diproduksi di Indonesia lalu dikirim ke Venesia, tetapi juga dikembangkan melalui residensi, dialog, dan kolaborasi langsung di ruang tersebut.

Pada pembukaan Paviliun Indonesia, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026 memiliki arti penting bagi penguatan diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat global. Menurutnya, kehadiran Indonesia tahun ini menjadi momentum penting karena merupakan partisipasi pertama di bawah Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri.

Kami meyakini bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga fondasi bagi masa depan. Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam keterangan resminya dikutip pada, Rabu 12 Mei 2026

Menbud Fadli Zon juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan sebuah peradaban megadiversitas dengan lebih dari 17.000 pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah. Kekayaan budaya tersebut dibentuk oleh sejarah panjang pertukaran maritim, tradisi spiritual, inovasi artistik, dan warisan hidup yang terus berkembang hingga hari ini.

“Indonesia memiliki salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia. Bahkan warisan prasejarah Indonesia menunjukkan bahwa kepulauan ini telah lama menjadi salah satu pusat kreativitas tertua umat manusia. Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia, tempat tradisi, imajinasi, dan masa depan bertemu,” jelasnya.

Semangat tersebut tercermin dalam tema “Printing the Unprinted” yang, menurut Menbud, merupakan perayaan atas kekuatan imajinasi yang melampaui batas-batas realitas. “Melalui karya-karya yang ditampilkan di paviliun ini, para seniman Indonesia menghadirkan narasi-narasi spekulatif yang mengisi ruang-ruang yang belum tercatat, suara-suara yang belum terdengar, ingatan yang terlupakan, dan masa depan yang belum pernah dibayangkan,” tambahnya.

“Printing the Unprinted” mempertemukan tujuh seniman Indonesia lintas generasi, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin. Melalui medium seni cetak grafis atau printmaking, para seniman menghadirkan proses penciptaan sebagai ruang perjumpaan, pertukaran gagasan, serta pembacaan ulang terhadap sejarah, identitas, dan imajinasi Nusantara.

Secara konseptual, pameran ini berangkat dari narasi fiksi tentang pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi dari manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra. Narasi tersebut membuka pembacaan spekulatif tentang hubungan Asia dan Eropa, sekaligus memperdebatkan cara pandang sejarah global yang kerap dibangun melalui perspektif kedatangan, penemuan, dan klaim.

Selain pameran utama, Paviliun Indonesia juga menghadirkan rangkaian program berupa residensi seniman, diskusi seni, lokakarya, dan simposium. Seluruh program dirancang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, memperluas jejaring seni Indonesia, serta menghadirkan praktik artistik yang berbasis proses dan kolaborasi.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem talenta seni budaya, Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN) bersama kurator mengajak Negeri Elok untuk melibatkan tujuh talenta Indonesia. Mereka berkolaborasi dengan tujuh seniman Paviliun Indonesia dalam proses penciptaan dan pertukaran gagasan di Venesia.

Kolaborasi tersebut menggunakan pendekatan art therapy yang menempatkan seni tidak hanya sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai medium untuk membangun empati, merawat memori, meredakan trauma, serta memperkuat ketahanan personal dan kolektif. Dengan demikian, Paviliun Indonesia hadir sebagai ruang dialog lintas generasi, penyembuhan, dan pembentukan makna bersama.

Menbud Fadli Zon juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun masa depan kebudayaan. Menurutnya, budaya tidak dapat berkembang sendiri, melainkan membutuhkan dukungan lintas sektor, baik pemerintah, publik, maupun swasta. “Budaya adalah sumber identitas, nilai, dan imajinasi, sementara ekonomi kreatif menjadi kekuatan yang mengubah budaya menjadi inovasi, peluang, dan pengaruh global. Karena itu, Indonesia terus memperkuat hubungan antara seni, tradisi, dan industri kreatif, mulai dari seni visual, film, musik, sastra, hingga animasi, gim, dan budaya digital,” ujarnya.

Menbud juga menambahkan bahwa Indonesia terus membuka peluang kerja sama internasional melalui penguatan kemitraan budaya, termasuk melalui Dana Indonesiaraya dan berbagai program residensi internasional. “Paviliun Indonesia adalah ruang terbuka untuk dialog, pertukaran gagasan, dan membangun jembatan antarbudaya. Kami mengundang komunitas seni dunia untuk melihat Indonesia sebagai mitra strategis dalam kolaborasi yang lebih bermakna di masa depan,” tambahnya.

Turut hadir dalam pembukaan Paviliun Indonesia antara lain Menteri Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda Republik Singapura David Neo, Duta Besar Indonesia untuk Italia Junimart Girsang, serta Duta Besar Indonesia untuk Portugal Susi Marleny Bachsin.

Melalui pameran “Printing the Unprinted”, Paviliun Indonesia tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga menawarkan cara pandang tentang sejarah, imajinasi, dan masa depan kebudayaan. Kehadiran Indonesia di Venice Biennale 2026 menjadi penanda penting bahwa seni dapat menjadi ruang diplomasi, kolaborasi, sekaligus percakapan global yang berakar pada pengalaman Nusantara.

Berita Terkait

Otto Hasibuan: Peradi Terus Berjuang Mewujudkan Single Bar

Farid Bima

Kapolri: Penangkapan Irjen Teddy Berawal dari Keterlibatan Warga Sipil dan 3 Anak Buahnya Jual BB Narkoba

Farid Bima

Panglima TNI Kembali Lakukan Mutasi, Diantaranya 5 Perwira Tinggi Bertugas di Papua

Farid Bima

Leave a Comment