Jaksa Agung ST Burhanuddin: Banding Kasus Ferdy Sambo Pertimbangkan Keadilan Substantif

0

“Gunakanlah hati nurani di setiap pengambilan keputusan dalam proses penegakan hukum, karena hati nurani tidak ada dalam buku. Gunakanlah kepekaan sosial, sebab Jaksa bukan cerobong undang-undang yang bersifat kaku, baku, dan membeku”

Jaksa Agung ST Burhanuddin. (Istimewa)

Mata-Hukum, Jakarta – Kejaksaan Agung telah menyatakan sikap atas putusan lima terdakwa perkara pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Atas vonis Bharada Richard Eliezer alias Bharada E, Kejaksaan Agung telah menyatakan sikap menerima putusan Majelis Hakim.

Bharada Richard Eliezer saat menyapa para pengunjung sidang di ruang persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Istimewa)

Artinya jaksa penuntut umum (JPU) tidak mengajukan upaya hukum lanjutan berupa banding.

Sementara bagi empat terdakwa lainnya, yakni Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Maruf, Kejaksaan sudah melayangkan akta permintaan banding.

Sikap tersebut mengikuti pengajuan banding yang dilakukan pihak terdakwa.

Mengenai sikap tersebut, Kejaksaan Agung mengklaim telah mempertimbangkan dinamika hukum yang berkembang di masyarakat.

Jaksa Agung ST Burhanuddin saat Konprensi pers. (Istimewa)

“Sikap banding atau tidak, wajib mempertimbangkan dinamika hukum dan keadilan yang berkembang di masyarakat selama ini dengan menggunakan standar dan syarat-syarat tertentu yang sangat ketat,” kata Jaksa Agung, ST Burhanuddin dalam keterangan resminya, pada Minggu 26 Februari 2023.

Kasus ini dinilai Burhanuddin telah memperoleh atensi luar biasa dari berbagai elemen masyarakat. Sehingga, banyak yang menyampaikan ekspresi puas maupun tidak.

Ekspresi para pendukung Bharada Richard Eliezer usai pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Istimewa)

Fenomena demikian dapat menjadi representasi dari keadilan substantif yang perlu dipertimbangkan.

“Fenomena tersebut merupakan representasi dari keadilan masyarakat yang sesaat dan tentu perlu dikaji seberapa jauh dan banyak suara tersebut menjadi representasi keadilan substantif,” katanya.

Keadilan substantif yang mempertimbangkan pendapat masyarakat itu mesti diterapkan, di samping keadilan formalistik yang cenderung kaku.

Dari kiri, mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bripka Ricky Rizal dan Kuat Ma’ruf saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Istimewa)

Dalam kesempatan tersebut Jaksa Agung pun menyinggung penggunaan hati nurani bagi para jaksa dalam menangani perkara hukum, termasuk perkara Ferdy Sambo dkk.

“Gunakanlah hati nurani di setiap pengambilan keputusan dalam proses penegakan hukum, karena hati nurani tidak ada dalam buku. Gunakanlah kepekaan sosial, sebab Jaksa bukan cerobong undang-undang yang bersifat kaku, baku, dan membeku,” tutur Burhanuddin.

Dari kiri, mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Candrawathi dan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. (Istimewa)

Sebagai informasi, dalam perkara ini Kejaksaan Agung telah resmi tidak mengajukan banding atas putusan 1,5 tahn penjara bagi Richard Eliezer.

Alasannya, Richard dianggap telah kooperatif dalam membongkar kasus ini.

“Bahwa saudara Richard Pudihang Lumiu yang telah berterus terang, kooperatif dari awal itu merupakan contoh dari pelaku umum yang telah membongkar tindak pidana menjadi pertimbangan juga bagi jaksa untuk tidak mengajukan banding,” ujar Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung, Fadil Zumhana dalam konferensi pers pada Kamis 16 Februari 2023 lalu.

Putri Candrawathi dan Kuat Ma’ruf saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Istimewa)

Sikap tersebut seirama dengan pihak Richard Eliezer yang menyatakaan keenganan untuk banding.

Sebab putusan tersebut dianggap sudah sesuai target dari yang diharapkan oleh pihaknya.

“Bahwa kami penasihat hukum sudah sesuai (dengan putusan hakim, red), bahwa targetan kami dari awal bahwa kami sampaikan bahwa ini adalah putusan adalah putusan untuk Richard, apapun keputusan hari ini, kita akan ikhlas kita akan terima,” kata pengacara Eliezer, Ronny Talapessy kepada wartawan, pada Rabu 15 Februari 2023.

Mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo bersama istrinya Putri Candrawathi saat menjalani rekontruksi kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat di Rumah Dinas Kadiv Propam Komplek Duren Tiga no 46 Jakarta Selatan. (Istimewa)

Sementara empat terdakwa lainnya telah mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi.

Yaitu Kuat Maruf yang divonis 15 tahun penjara telah resmi mengajukan banding pada Rabu 15 Februari 2023.

Sedangkan tiga terdakwa lainnya resmi mengajukan banding sehari setelahnya yaitu pada Kamis 16 Februari 2023.

Ferdy Sambo mengajukan banding atas vonis mati, Putri Candrawathi mengajukan banding atas vonis 20 tahun, dan Ricky Rizal mengajukan banding atas vonis 13 tahun.

“Pengajuan banding tersebut untuk terdakwa KM pada tanggal 15 Februari 2023, sedangkan untuk terdakwa FS, PC dan RR diajukan pada tanggal 16 Februari 2023,” kata Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Djuyamto kepada wartawan, pada Kamis 16 Februari 2023.

Sementara itu, pihak Kejaksaan menyatakan kesiapannya melawan banding yang diajukan tersebut.

Nantinya, jaksa penuntut umum (JPU) yang bertugas akan mempersiapkan kontra memori banding sebagai balasan atas memori banding pihak terdakwa.

“Siap! Kami mempersiapkan dalil-dalil bantahan atas memori banding yang dibuat oleh para terdakwa dan tim PH-nya,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Ketut Sumedana kepada wartawan, pada Senin 20 Februari 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *