33.8 C
Jakarta
10.06.2026
Mata Hukum
Home » Kalau Teddy Jenderal – Ia Tak Akan Berani Mengomentari Dino Patti Djalal
OpiniPolitik

Kalau Teddy Jenderal – Ia Tak Akan Berani Mengomentari Dino Patti Djalal

Ali Syarief
Jurnalis, Cross Culture Lecturer

ADA satu jenis kebodohan yang sering muncul dalam lingkaran kekuasaan: menganggap pangkat dan jabatan yang dimiliki otomatis membuat seseorang berhak menggurui siapa pun di bidang apa pun.

Padahal dalam kehidupan modern, setiap bidang memiliki otoritas, tradisi keilmuan, dan jenjang profesionalismenya sendiri.

Ketika Teddy mengomentari Dino Patti Djalal, yang terlihat bukanlah keberanian intelektual, melainkan ketidakmampuan memahami ukuran kompetensi seseorang.

Dalam dunia militer, pangkat tertinggi adalah jenderal bintang empat. Pangkat itu tidak diperoleh dalam semalam. Ia merupakan akumulasi pengalaman, pendidikan, penugasan, pengorbanan, dan pengakuan institusi selama puluhan tahun.

Seorang letnan tentu tidak akan dengan mudah mengajari seorang jenderal tentang strategi perang. Bukan karena jenderal selalu benar, tetapi karena ada penghormatan terhadap jenjang kompetensi.

Masalahnya, Teddy tampaknya melihat dunia hanya dari sudut pandang kekuasaan formal. Ia lupa bahwa dunia diplomasi juga memiliki “jenderal-jenderalnya” sendiri.

Dino Patti Djalal bukan sekadar mantan diplomat. Ia adalah salah satu diplomat paling senior yang pernah dimiliki Indonesia. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk memahami hubungan internasional, negosiasi antarnegara, politik global, keamanan kawasan, dan seni memperjuangkan kepentingan nasional di meja diplomasi. Jika dunia diplomasi mengenal pangkat sebagaimana militer mengenal bintang, maka Dino sudah lama berada pada level jenderal bintang empat.

Di titik inilah letak persoalannya.

Orang yang memahami arti kompetensi akan tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengar. Orang yang mengerti kedalaman ilmu akan menyadari bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan dengan jabatan. Sebab jabatan hanyalah legitimasi administratif, sementara keahlian adalah legitimasi intelektual.

Teddy mungkin memiliki akses ke pusat kekuasaan. Namun akses kekuasaan tidak otomatis melahirkan kapasitas. Dekat dengan presiden tidak serta-merta membuat seseorang menguasai diplomasi internasional. Sebagaimana dekat dengan rumah sakit tidak otomatis membuat seseorang menjadi dokter spesialis.

Karena itu, ketika seorang pejabat muda dengan pengalaman diplomasi yang relatif terbatas berusaha mengoreksi atau meremehkan pandangan seorang diplomat kelas dunia seperti Dino Patti Djalal, yang terlihat bukanlah superioritas argumen. Yang tampak justru kegagalan memahami peta kompetensi.

Seorang jenderal sejati memahami siapa lawan bicaranya. Ia tahu kapan harus memberi perintah dan kapan harus belajar. Ia mengerti bahwa kehormatan tidak lahir dari kesediaan mengomentari semua hal, melainkan dari kemampuan menghormati keahlian orang lain.

Kalau Teddy memiliki mentalitas seorang jenderal yang sesungguhnya, ia akan sadar bahwa Dino Patti Djalal di bidang diplomasi adalah apa yang disebut militer sebagai perwira tertinggi. Ia mungkin boleh berbeda pendapat, tetapi akan menyampaikannya dengan kerendahan hati dan penghormatan terhadap rekam jejak yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Sayangnya, yang muncul justru kesan sebaliknya. Seolah kedekatan dengan kekuasaan dianggap cukup untuk menandingi pengalaman, pengetahuan, dan reputasi yang dibangun sepanjang hayat.

Sejarah peradaban selalu mengajarkan satu hal: orang yang benar-benar besar biasanya tahu siapa yang lebih ahli darinya. Sedangkan mereka yang belum memahami batas kemampuannya sering kali merasa mampu mengomentari siapa saja.

***

Berita Terkait

Sosok Sari Yuliati, Poltisi Golkar Asal NTB Kini Jabat Wakil Ketua DPR RI

Farid Bima

Ditetapkan Tersangka Korupsi oleh Kejaksaan Agung, Si Raja Minyak Riza Chalid Diduga Ada di Singapura

Farid Bima

Bela Palestina Jauh Lebih Bermartabat daripada Tunduk pada Ancaman IOC

Farid Bima

Leave a Comment