Kasus Kecelakaan Melibatkan Mobil Ekspedisi PT Sumatera Transindo Ekspress Dengan Mobil Pribadi di Jl Pangeran Jayakarta Berbuntut Panjang

0

“Pasalnya kedua pihak antara korban dan pelaku yang nabrak belum ada sepakat damai”

Ilustrasi kecelakaan tabrakan mobil (istimewa)

Mata Hukum, Jakarta – Kasus kecelakaan antara mobil ekspedisi dengan mobil pribadi di lokasi Parkir PT.Artha Center, Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta pada Rabu 3 Januari 2024 berbuntut panjang.
Pasalnya kedua pihak belum ada kesepakatan damai.
Sementara pihak korban yaitu Fugensius Jimmy menjelaskan kronologis kejadian yang menimpa kendaraan miliknya yang ditabrak oleh truk Fuso diduga milik PT. Sumatera Transindo Ekspress.

” Kronologis kejadian perkara mobil saya ditabrak oleh Truk besar Fuso dengan Nomor Polisi B 8351 BV Mitsubishi type FM 517 HL MT nomor rangka MHMF517B9K001047 tahun 2009. Truk Fuso tersebut diduga milik PT. Sumatera Transindo Ekspress
lebih kurang sebagai berikut”, ungkap Jimmy kepada matahukum, Kamis 18 Januari 2024.
Berikut kronologis kejadiannya;

“Kurang lebih kejadian terjadi pada 3 Januari 2024, sekitar jam 21:30 di TKP; di lokasi Parkir PT.Artha Center, Jalan Pangeran Jayakarta, sebelah stasiun Kereta Api Pangeran Jayakarta “, jelas Jimmy.

Setelah itu beber Jimmy, bahwa Mobil Truk Fuso semula menabrak mobil box, kemudian tergopoh-gopoh mau kabur, jadi menabrak lagi mobil saya yang terparkir di lokasi parkir (dalam keadaan diam).

” Akibat tabrakan tersebut mobil saya dengan nomor polisinya BE 8351 BV mengalami kerusakan berat, yaitu pintu kanan belakang (rusak berat sampai koyak) dan panel belakang pintu yang menyatu sampai ke kaca depan dan tempat buka pintu depan juga koyak) terlampir Photo no.1″, kata Jimmy.

Kemudian lanjut Jimmy menjelaskan, oleh Istri saya dimintakan Asli STNK dan SIM dari supir dan dikasihkan oleh supir ke istri saya; dan saya titipkan pada Aini dengan pesan bahwa SIM dan STNK tersebut tidak boleh dikembalikan pada siapapun juga.

“Setelah tabrakan terjadi, pada tgl 5 January 2024, Pak Wijaya selaku pimpinan perusahaan menunggu saya di rumah saya di Ruko e15-16… ketemu saya waktu sdh menjelang malam hari; waktu itu saya sampaikan kalau perlu hubungi saya kekantor saja di E-7”, tutur Jimmy.

Besoknya kata Jimmy yaitu tanggal 7 January 2024, Pak Wijaya menghubungi kantor saya dan kami membicarakan kemungkinan penyelesaian secara damai atas kerugian yang kami alami akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh orang yang bekerja diperusahaan Pak Wijaya.

“Bahwa intinya pasal 1367 KUH Perdata mewajibkan seorang yang memperkerjakan orang lain untuk bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan oleh sang supir yang bekerja pada PT. Sumatera Transindo Ekspress tersebut “, tegas Jimmy.

“Tapi dia tetap ngotot bahwa sang supir hanya mampu bertanggung jawab sampai 1 jt rupiah saja, dan itu bukan urusan Perusahaan, karena mereka telah menandatangani kontrak kerja yang mengatur bahwa setiap kecelakaan supir adalah mutlak tanggung jawab supir tanpa melibatkan perusahaan”, terang Jimmy.

” Saya telah sampaikan bahwa setiap perjanjian yang bertentangan dengan Undang-Undang adalah batal demi hukum; kemudian saya mencoba untuk mencari jalan tengah, bahwa dia boleh menganti rugi sebesar Rp.1.000.000,- tetapi dia wajib menyediakan mobil pengganti selama mobil saya dibengkel..; dia menyatakan bahwa dia berkeberatan karena dia tidak punya mobil kecil dan punya truk, yang kemudian menjadi inspirasi saya untuk menawarkan untuk supaya memenuhi asas keadilan”, beber Jimmy.

Jadi lanjut Jimmy, selama mobil saya dibengkel dalam proses perbaikan dan saya tdk bisa pakai mobil tersebut, maka:
Mobil yang menabrak mobil saya di straf/dikarantina dilokasi tabrakan untuk tdk dioperasionalkan lebih lanjut, kesemuanya ditolak mentah-mentah.

“Ternyata STNK dan SIM yang diminta sebagai jaminan oleh istri saya agar yang bersangkutan bertanggung jawab ternyata diberikan SIM asli akan tetapi STNK motor Yupiter (bukan mobil yang menabrak mobil saya Truk Fuso) karena hal ini saya sedang mempertimbangkan untuk melaporkan tentang dugaan adanya tindak pidana penipuan yang dilakukan oleh sang Supir yang bernama Umar”, tegas Jimmy.

” Karena dead lock saya menyatakan bahwa sebagai pihak yang dirugikan saya akan menempuh segala upaya hukum yang tidak dipenuhi Perusahaan dia dalam melaksanakan operasional sebagai perusahaan ekspedisi”, tutur Jimmy.

Karena saya dirugikan lanjut Jimmy maka saya melaporkan keseluruh instansi atas kebandelan dalam memenuhi ketentuam perundangan yang berlaku.

” Atas laporan saya itu dia (Wijaya) menyatakan siaaap untuk menghadapinya”, kata Jimmy.

Sementara pihak perusahaan ekspedisi yaitu PT Sumatera Transindo Ekspress buka suara. Wijaya sebagai orang kepercayaan pihak perusahaan sekaligus mengatur jalannya ekspedisi di Jakarta menjelaskan bahwa sudah sempat negosiasi dengan sopir yang terlibat kasus kecelakaan tersebut.
“Kemarin sopir sudah negosiasi dengan Pa Jimmy karena sopirnya mau bertanggung jawab, ya semampu sopir lah”, ujar Wijaya kepada matahukum melalui sambungan telepon, pada Kamis 18 Januari 2024.

Dalam kesempatan tersebut Wijaya juga menjelaskan, kalau memang mobilnya pa Jimmy asuransi ya tinggal klaim asuransi berapa nanti si sopirnya akan negosiasi lagi dengan Pa Jimmy.

“Urusannya kan sama sopir ko Pa Jimmy bawa bawa kita yang di kantor “, ungkap Wijaya

Wijaya lanjut menjelaskan, namanya sopir yang kerja tempat kita. Sopir akan bertanggung jawab setelah keluar dari area perusahaan.
“Jadi diperjalanan itu apa apa yang terjadi itu tanggung jawab sopir, bukan tanggung jawab kita lagi”, tegas Wijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *