Kejaksaan Agung Telusuri Dugaan Pengumpulan Uang untuk Hentikan Penyidikan Korupsi BTS

0

“Dirdik pada Jampidsus Kejagung, Kuntadi: Dito diduga turut menerima uang sebesar Rp 27 miliar di dalam pusaran kasus korupsi. Namun pemeriksaan Dito di luar tempus delicti atau di luar waktu tindak pidana kasus korupsi BTS Keminfo”

Mata-Hukum, Jakarta – Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Dirdik Jampidsus) Kejagung, Kuntadi menyampaikan penjelasan soal dugaan keterlibatan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Ario Bimo Nandito Ariotedjo alias Dito Ariotedjo dalam kasus korupsi BTS Kominfo.

Dito diduga turut menerima uang sebesar Rp 27 miliar di dalam pusaran kasus korupsi. Kuntadi menyebut pemeriksaan Dito di luar tempus delicti atau di luar waktu tindak pidana kasus korupsi BTS Keminfo.

“Namun yang jelas, bahwa peristiwa tersebut, kalau toh benar adanya, nanti itu di luar tempus peristiwa pidana BTS. Jadi tolong dibedakan,” kata Kuntadi usai pemeriksaan Dito di Kantor Kejagung, Jakarta, pada Senin 3 Juli 2023.

Dia menyebut kasus korupsi proyek penyediaan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 BAKTI Kominfo Tahun 2020-2022, telah selesai secara waktu pidananya.

“Dan selanjutnya terinfo dalam rangka untuk menangani atau mengendalikan penyidikan terhadap upaya, untuk mengumpulkan dan memberikan sejumlah uang,” ujarnya.

“Sehingga dari hal tersebut nampak jelas bahwa peristiwa ini tidak ada kaitan dengan tindak pidana yang menyangkut proyek BTS paket 1 sampai 5. Karena kemarin terinformasi, kaitannya dengan karir dan sebagainya. Jadi kami terikat dengan tempus dan lokus,” sambungnya.

Sebelumnya, Dito usai menjalani pemeriksaan, buka suara soal dugaan yang menyebut dirinya menerima uang Rp 27 miliar.

“Ini terkait tuduhan saya menerima Rp 27 miliar, di mana tadi saya sudah, saya sampaikan apa yang saya ketahui, dan apa yang saya alami” kata Dito di Kator Kejaksaan Agung, Jakarta.

Lebih jelasnya, kata Dito, hal itu itu bisa ditanyakan langsung ke penyidik Kejagung

Ini untuk materi detailnya lebih baik pihak berwenang yang menjelaskan,” ujarnya.

Begini Rincian Dugaan Aliran Uang Korupsi BTS Kominfo, Selain ke Dito Ariotedjo

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Ario Bimo Nandito Ariotedjo atau Dito Ariotedjo dipanggil Kejaksaan Agung pada Senin, 3 Juli 2023. Panggilan itu untuk mengkonfirmasi dugaan aliran dana yang diberikan oleh salah satu tersangka Korupsi Base Transceiver Station (BTS) 4G Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kominfo, Irwan Hermawan.

Jaksa menjadwalkan pemeriksaan Dito Ariotedjo pukul 09.00 WIB. “Harapan kami, yang bersangkutan datang tepat waktu,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung I Ketut Sumedana pada Minggu, 1 Juli 2023.

Irwan Hermawan merupakan Komisaris PT Solitech Media Sinergy. Irwan mengaku ke penyidik memberikan Rp 27 miliar kepada Dito pada November-Desember 2022 untuk meredam pengusutan perkara proyek ini oleh Kejaksaan Agung.

Total duit yang dikumpulkan untuk meredam kasus tersebut mencapai Rp 243 miliar, saweran dari konsorsium dan subkontraktor proyek. Untuk Dito Ariotedjo, uang dalam pecahan dolar Amerika Serikat itu diserahkan dua kali ke rumah Dito Ariotedjo di Jalan Denpasar, Jakarta Selatan.

Sewaktu Irwan menyerahkan uang, Dito Ariotedjo masih menjabat staf khusus Kementerian Koordinator Perekonomian. Dito adalah politikus muda Partai Golkar dan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto adalah ketua umum partai berlambang pohon beringin tersebut.

Selain Dito Ariotedjo, Irwan menebar duit ke mana-mana. Berdasarkan dokumen yang diperoleh Tempo, berikut rincian uang yang disebar oleh Irwan atas arahan terdakwa lain Anang Latif selaku Direktur Utama BAKTI:

  1. April 2021-Oktober 2022, kepada Staf Menteri Rp 10 miliar.
  2. Desember 2021, kepada Anang Latif Rp 3 miliar
  3. Pertengahan 2022, kepada POKJA, Feriandi dan Elvano Rp 2,3 miliar
  4. Maret dan Agustus 2022, kepada Latifah Hanum Rp 1,7 miliar
  5. Desember 2021 dan pertengahan 2022, kepada Nistra Rp 70 miliar
  6. Pertengahan 2022, kepada Erry (Pertamina) Rp 10 miliar
  7. Agustus-Oktober 2022, kepada Windu dan Setyo Rp 75 miliar
  8. Agustus 2022, kepada Edwar Hutahaean Rp 15 miliar
  9. November-Desember 2022, kepada Dito Ariotedjo Rp 27 miliar
  10. Juni-Oktober 2022, kepada Walbertus Wisang Rp 4 miliar
  11. Pertengahan 2022, kepada Sadikin Rp 40 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *