“Save the Children melaporkan bahwa jumlah anak yang terbunuh di Gaza, Palestina melampaui 20.000 jiwa selama 23 bulan perang”
Mata Hukum, Jakarta – IBU Negara Amerika Serikat (AS) Melania Trump menyoroti penyebab penderitaan anak-anak yang terjebak dalam konflik.

“Kepada keluarga yang telah kehilangan pahlawan mereka yang mengorbankan hidup mereka untuk kebebasan, keberanian dan dedikasi mereka akan selalu dikenang,” katanya di depan ruangan yang penuh sesak, seperti yang dilansir Bangkok Post. Dikutip pada, Kamis 5 Maret 2026.

Hal itu disampaikan oleh Ibu Negara AS saat memimpin pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Senin. Ini terjadi ketika di tengah ketegangan di Timur Tengah meningkat akibat serangan AS–Israel ke Iran sejak akhir pekan.

Duta besar dari seluruh anggota Dewan Keamanan, termasuk Rusia dan China, hadir untuk bertemu dengan Melania Trump, yang mewakili AS saat mengambil alih kepresidenan bergilir bulanan Dewan Keamanan.
Mantan foto model majalah dewasa itu membuka pertemuan dengan memukul palu upacara sebelum berterima kasih kepada Inggris atas kepresidenannya selama sebulan. Ia memberikan penghormatan bagi anggota militer AS yang tewas dalam perang melawan Iran.
“Perdamaian abadi akan dicapai ketika pengetahuan dan pemahaman sepenuhnya dihargai dalam semua masyarakat kita,” tambahnya. “Oleh karena itu, masyarakat yang diperintah oleh pengetahuan dan kebijaksanaan lebih damai.”
Menjelang pertemuan itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani mengatakan “sangat memalukan dan munafik bahwa pada hari pertama kepresidenannya di Dewan Keamanan, Amerika Serikat mengadakan pertemuan tingkat tinggi tentang perlindungan anak-anak.”
Ia merujuk pada serangan AS-Israel di sebuah sekolah dasar yang menewaskan sedikitnya 165 siswi dan guru di wilayah selatan Iran pada akhir pekan lalu.
Tidak lama setelah itu, Melania mengatakan “AS berdiri bersama semua anak di seluruh dunia. Saya berharap segera perdamaian akan menjadi milik anda,” tanpa menyebut langsung pada serangan di seluruh Timur Tengah.
Namun, ia mendapat sambutan hangat dari negara-negara yang diwakili dalam Dewan. Duta Besar Yunani Aglaia Balta mengatakan “terima kasih Nyonya Presiden,” sementara perwakilan Prancis membandingkannya dengan mantan ibu negara dan aktivis terkenal Eleanor Roosevelt.
Rusia pun ikut bergabung dengan paduan suara pujian sopan, menghindari penyebutan Iran yang hanya disebutkan oleh anggota Dewan dan sekutu setia Washington, Bahrain.
“Saya berharap anda semua memiliki kekuatan dan tekad untuk berhasil menjaga perdamaian dan keamanan di seluruh dunia,” kata Melania saat menutup pertemuan yang berdurasi dua jam itu.
Ketegangan Keuangan dan Politik
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengkonfirmasi bahwa ini merupakan pertama kalinya seorang ibu negara atau pria pertama memimpin pertemuan Dewan Keamanan.
AS menjabat kepresidenan bergilir Dewan untuk Maret.
Istri ketiga Presiden Donald Trump pernah berbicara untuk mengamankan pembebasan anak-anak Ukraina yang diculik Rusia. Namun, ia menuai kritik dari Ibu Negara Turki karena diam atas kematian lebih dari 20.000 anak Palestina akibat genosida Israel di Gaza.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Rosemary DiCarlo untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, memberikan penghormatan kepadanya “atas pekerjaannya untuk memberikan visibilitas pada masalah anak-anak dalam konflik dan khusunya untuk keterilibatan pribainya untuk menyatukan kembali anak-anak Ukraina dengan keluarga mereka.”
Ketegangan politik dan keuangan telah meningkat antara AS dan PBB dalam beberapa tahun terkahir, di mana Washington sebagai kontributor utama anggaran badan yang kekurangan uang merasa gelisah pada perannya.
Banyak analisis mengatakan kepada presiden AS bermaksud untuk melewati Dewan Keamanan dengan “Dewan Perdamaian” baru, yang baru saja mengadakan pertemuan pertamanya di Washington bulan lalu.
Pada pertemuan itu, Trump kembali mengkritik bahwa PBB telah gagal dalam misinya.
Sejak kembali ke Gedung Putih tahun lalu, ia telah mencabut dukungan dari beberapa Lembaga utama PBB, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia.
Badan dunia baru saja meluncurkan program reformasi, dan beberapa hari yang lalu Washington membayar US$160 juta untuk anggaran reguler organisasi – setelah tidak membayar apa pun pada 2025.
Namun, AS masih memiliki hutang sebesar us$4 miliar kepada PBB untuk anggaran reguler dan anggaran penjaga perdamaian, dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gueterres memperingatkan kehancuran finansial yang akan terjadi.
Apa yyang dilakukan oleh Ibu Negara AS tersebut bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Seperti diketahui bahwa baru saja terjadi serangan udara yang dilakukan oleh Negara AS dibawah pimpinan Presiden Donald Trump bersama dengan Negara Zionis Israel dibawah pimpinan PM Neta Nyahu melakukan serangan udara terhadap Negara Orang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Iran pada hari pertama pecahnya perang.
Melansir New York Times pada, Kamis 5 Maret 2026, serangan tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Media pemerintah Iran serta pejabat kesehatan setempat melaporkan sedikitnya 175 orang tewas, sebagian besar diduga anak-anak.
Korban Anak Akibat Penjajah Zionis Israel yang Didukung AS di Palestina
Berdasarkan data laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza, PBB, dan organisasi internasional (per akhir 2025 hingga awal 2026), jumlah anak Palestina yang tewas akibat agresi militer Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai angka yang sangat tinggi, melampaui 18.000 hingga 20.000 jiwa
Berikut adalah ringkasan situasi anak Palestina yang tewas selama periode 2023 – 2026:
Data Statistik Korban Anak (Oktober 2023 – Awal 2026)
September 2025: Save the Children melaporkan bahwa jumlah anak yang terbunuh di Gaza melampaui 20.000 jiwa selama 23 bulan perang, dengan rata-rata setidaknya satu anak tewas setiap jam.
Agustus 2025: Laporan menyebutkan 18.500 hingga 18.592 anak Palestina tewas akibat serangan militer Israel sejak 7 Oktober 2023.
Januari 2026: Serangan udara Israel terus berlanjut ke tahun 2026, dengan laporan pada 31 Januari 2026 menyebutkan serangan di Gaza City dan Khan Younis menewaskan puluhan orang, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.
Total Dampak (Tewas/Cacat): UNICEF melaporkan pada Oktober 2025 bahwa lebih dari 60.000 anak Palestina di Jalur Gaza tewas atau cacat.

