Perlu Diketahui, Ada 3 Persekusi terhadap Umat Muslim di China Diantaranya Pencucian Otak

0

“Penahanan umat Muslim terutama yang perempuan oleh Pemerintah China menjadi sorotan internasional karena berdasarkan sejumlah kesaksian tahanan perempuan, mereka mengaku mendapat pelecehan seksual hingga pemerkosaan”

Mata-Hukum, Jakarta – China kembali menjadi perhatian setelah pemerintahan Presiden Xi Jinping dilaporkan berencana membuat Al Quran versi Negeri Tirai Bambu gabungan antara Islam dan Konghucu.
Sebagai negara Komunis, China memang membatasi aktivitas beragama meski menegaskan negaranya masih menjamin kebebasan setiap warga untuk memeluk agama tertentu.

Berdasarkan data Pew Research Center pada 2020, ada sekitar 18 juta umat Muslim tinggal di China, mayoritas terdiri dari suku Hui dan Uighur. Kedua suku itu sebagian besar tinggal di Xinjiang, barat daya China.

Dalam beberapa tahun terakhir, China diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap Muslim di Xinjiang. Muslim di Xinjiang juga dilaporkan mengalami kesulitan untuk beribadah.

Dikutip dari Al Jazeera, pemerintah mengancam akan menangkap individu yang ketahuan sedang shalat, berpuasa, menumbuhkan janggut, dan mengenakan jilbab di beberapa daerah di China.

Kebencian China terhadap kaum Muslim terutama dilakukan oleh partai komunis. Partai komunis menganut paham ateis yang melarang anggotanya memeluk agama. Para pejabat tinggi dari partai komunis terus menyuarakan akan bahaya terorisme dan ekstremisme agama secara global. Sampai saat ini, terdapat berbagai insiden perlakuan keji partai komunis kepada kaum Islam.

Berikut tiga persekusi yang diduga dilakukan China terhadap Muslim di Negeri Tirai Bambu:

  1. Penahanan dan Pencucian Otak
    Sejak Tahun 2017, telah menangkap puluhan hingga ratusan umat Muslim di daerah yang masyarakatnya mayoritas menganut agama Islam, Xinjiang.

Selama ditangkap, para korban dipaksa melupakan keyakinannya, mengkritik diri sendiri, dan memuja partai komunis.

Omir Bekali, seorang etnis Kazakh yang bekerja dengan perusahaan swasta daerah Urumqi, memberikan pernyataan tentang kondisi penangkapan. Dikutip dari The Washington Post, Selama empat hari Omir diinterogasi oleh polisi tanpa diberi waktu tidur, dilanjutkan tujuh bulan di dalam sel polisi, dan 20 hari di kamp pendidikan ulang di Kota Karamay.

Omir ditangkap saat mengunjungi orang tuanya yang berada di Desa Shanshan pada Maret 2017. Selama ditangkap, Omir tidak diberi akses berhubungan dengan pihak luar, termasuk pengacaranya selama ditahan.

Pemerintah China tidak menanggapi dengan jelas atas peristiwa ini. Kementerian Luar Negeri China mengatakan tidak pernah mendengar tentang penahanan umat Muslim.

  1. Dipaksa Makan Babi
    Selain ditahan, dalam rentang waktu yang sama umat Muslim di Xinjiang, terutama yang berada dalam penahanan, juga dilaporkan dipaksa makan babi. Pemaksaan makin babi banyak dilakukan di kamp-kamp pendidikan ulang yang berusaha mengubah ideologi tahanan.

Salah satu tahanan yang berhasil bebas, Sayragul Sautbay, menulis dan merilis buku yang menceritakan penderitaannya selama berada dalam tahanan. Buku itu diterbitkan sekitar 2020, dua tahun setelah ia bebas. Sautbay saat ini menjadi seorang pendidik dan dokter di Swedia.

Dikutip dari Al Jazeera, salah satu penghinaan terparah pada umat Muslim yang ditahan adalah dipaksa makan daging babi.

“Setiap hari Jumat, kami dipaksa makan daging babi. Mereka sengaja memilih hari yang suci bagi umat Islam. Dan jika Anda menolaknya, Anda akan mendapat hukuman yang berat,” ungkap Sautbay dalam wawancaranya pada 2020.

Hal ini dilakukan pelaku untuk menimbulkan rasa malu dan bersalah para tahanan. Sautbay juga mengungkapkan bahwa sekelilingnya terasa gelap dan merasa menjadi orang yang berbeda selama di kamp.

  1. Pelecehan Seksual hingga Pemerkosaan
    Penahanan umat Muslim ini menjadi sorotan internasional karena berdasarkan sejumlah kesaksian tahanan perempuan, mereka mengaku mendapat pelecehan seksual hingga pemerkosaan. Beberapa perempuan ini bahkan berpikir ingin bunuh diri karena tidak kuat dengan perlakuan yang diterima

Dalam laporan Forbes pada Februari 2021, para perempuan di kamp “penahanan” China ini diperkosa secara sistematis, dilecehkan, disiksa, dipaksa sterilisasi, hingga aborsi.

Walaupun pihak internasional telah memperingatkan dan mengecam, kekerasan ini dilaporkan tidak berhenti. Partai Komunis mengelak segala tindakan kejam mereka kepada perempuan dan tahanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *