Kala bumi melumat tubuh jelata, puncak takhta sibuk bersolek di atas genangan air mata.
Mai’s Publication
Restack
DI ambang bulan perayaan, bumi memutuskan untuk memuntahkan amarahnya.
Hanya dalam bilangan detik yang ringkas, tanah tumpah darah yang kita agungkan mendadak berkhianat. Dinding-dinding bata yang dipahat dari remasan keringat seumur hidup luruh menjadi puing mayat. Atap rumah runtuh menghantam lelap anak-anak tak berdosa, dan lolongan histeris merobek gulita malam. Orang-orang berlari dengan telapak kaki telajang yang koyak, mencakar tumpukan puing dengan kuku bersimbah darah—semata demi mencari sisa kehangatan dari tubuh-tubuh tercinta yang remuk terhimpit reruntuhan yang mencekik.
Di tanah yang luluh lantak itu, kiamat kecil baru saja menuntaskan eksekusinya.
Aroma debu kapur yang pekat mengendap bersama anyir darah di udara dingin. Yang tertinggal hanyalah tatapan hampa para ibu di bawah terpal tiris, tangis bayi yang kehabisan air susu, dan jajaran kantong jenazah yang membisu di kubang lumpur.
Namun di panggung-panggung kekuasaan yang steril dari sembilu, sebuah karnaval raksasa justru dipersiapkan dengan arogansi yang tanpa ampun.
Sementara jelata bertaruh nyawa mengais sisa napas dan menyeka darah serta air mata, para punggawa di singgasana megah sibuk mengurus hal-hal paling artifisial: menyetrika pita dwiwarna, memoles lars barisan defile, menghitung anggaran kembang api, dan memastikan simfoni parade berdentang tanpa cela.
Bagi mereka yang bertahta di bilik istana yang kedap nurani, jerit parau korban gempa hanyalah riak kecil yang tak boleh menodai kemilau pesta. Teater kenegaraan pantang redup. Kamera televisi harus tetap menangkap senyum pongah para pejabat yang melambaikan tangan dari panggung beludru.
Monumen kebesaran bangsa dipamerkan ke hadapan dunia, meski fondasinya berdiri tegak di atas ratapan manusia-manusia yang tanahnya baru saja merekah menelan asa.
Betapa busuknya ironi ini: negara begitu digdaya mengerahkan ribuan personel dan memboroskan miliaran rupiah demi arak-arakan seremonial beberapa jam, namun mendadak lumpuh dan gagap saat harus mengirimkan selembar selimut hangat, setetes air bersih, dan sepetak tenda layak bagi warganya yang sekarat di ambang tamat.
Bagaimana mungkin nurani para penguasa itu tidak membusuk saat mereka bersulang anggur di jamuan kenegaraan, sementara rakyatnya sendiri harus berebut di bawah debu hanya demi sebungkus biskuit bantuan yang dilempar dari bak truk layaknya pakan ternak?
Bagaimana bisa mereka begitu pongah memekikkan kalimat kedaulatan di hadapan corong mikrofon berselubung emas, sementara di bawah rekahan lempeng bumi, suara paling lirih yang terdengar adalah doa orang-orang putus asa yang tak lagi memiliki alasan untuk menyongsong fajar?
Kita dipaksa menyaksikan betapa murahnya harga nyawa jelata di hadapan gengsi upacara para elit. Nasionalisme disulap menjadi topeng bengis untuk membius empati publik. Mereka menuntut kita mengibarkan panji dan larut dalam histeria persatuan semu, sembari dengan dingin membiarkan saudara-saudara kita meregang nyawa sendirian di liang kubur massal.
Agustus kali ini bukan lagi bulan perayaan, melainkan hamparan pekuburan bertabur kepalsuan—di mana anyir darah korban ditelan mentah-mentah oleh kebusukan pesta kekuasaan.
Dentum mesiu kembang api yang meletup di langit metropolis tak ubahnya tawa iblis yang mengejek jerit parau para pengungsi di bawah gigil gerimis. Dan manakala panji dwiwarna dikerek angkuh ke angkasa berbalut gita puja, yang terpatri di benakku bukan lagi bait-bait kejayaan bangsa—melainkan compang-camping kain merah yang bermandikan darah, serta perihnya kain putih yang menjelma kafan bagi rakyat jelata yang tertindih reruntuhan tanah.
Maka, telan kembali orasi-orasi beracun kalian, dan bungkus rapat arak-arakan laknat itu ke dalam laci takhta kalian yang berlumur aib dan noda.
Sebab runtuh sudah martabat sebuah negeri, tatkala para tiran lebih bernafsu merawat gengsi dan memamerkan pesta kepalsuan, ketimbang merunduk memeluk tubuh-tubuh lunglai warganya yang meregang nyawa di bawah timbunan kebinasaan.

