Politik Identitas Menuju Pemilu Presiden

Ilustrasi islamofobia [gonews]
“Isu politik identitas sengaja ditiupkan terus oleh kelompok tertentu yang ketakutan kalah dan tidak senang Islam bersatu. Inilah politik adu domba antar umat yang tidak produktif dan merusak semangat demokrasi”
SALAM dari Jogja.
Politik identitas dalam pandangan penulis sebagai profesor yang menekuni ilmu sosiologi dan komunikasi melihat bahwa politik identitas dalam perspektif sosiologi akan terus hadir dalam narasi politik Indonesia menuju pemilihan presiden 2024. Kenapa? Karena kondisi mental dan karakter masyarakat Indonesia belum terlepas dari sentimen primordialisme dan sektarianisme yang masih kuat mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia sekalipun sudah hidup di era demokratisasi terbuka dan era digitalisasi modern.
Istilah politik identitas sudah lama dikonstruksi sebagai narasi politik oleh kolompok elit politik tertentu di Indonesia. Sebagai wacana instrumen untuk menggambarkan rasa kebencian dan ketakutan kalah pada pihak lawan politiknya agar bisa menurunkan citra dan menyudutkan figur tertentu yang biasanya dinilai kuat dan berpotensi menang. Cara ini dipakai untuk mengalahkan lawan lainnya sehingga perlu disudutkan dengan narasi tidak nasionalis dan intoleran.
Sebenarnya semua kerja politik di Indonesia tidak lepas dari politik identitas, sebab politik selalu membutuhkan instrumen atau kendaraan media untuk menyatakan diri lewat identitas, seperti agama, suku, ras, kelompok, identitas budaya, paham ideologi, organisasi dan komunitas primordial lainnya. Dalam pengertian ini maka semua elit politik Indonesia dan pekerja politik masuk kategori penguna politik identitas.
Ketika kelompok PKI menyatakan diri ikut dalam arena politik Indonesia maka sesungguhnya itu juga masuk kategori politik identitas, karena gerakan politiknya mengajak kelompoknya untuk bersatu dalam identitas paham komunis atau yang sehaluan dengan pemikiran sosialis untuk memilih sesama anggotanya. Begitu juga ketika ormas Islam dan partai Islam mengkampayekan pentingnya menyatukan pilihan politik umat Islam kepada tokoh elit Islam maka itu juga politik identitas.
Banyak ulama setuju dengan politik identitas yang menawarkan doktrin dan ideologi Islam sebagai alat perjuangan pemersatu umat dan bangsa sebab umat Islam Indonesia paling besar sahamnya dalam kemerdekaan Indonesia.
Politik identitas selalu dilabelkan pada tokoh tokoh Islam padahal agama lain juga melakukan hal yang sama. Bahkan politik kesukuan itu juga politik identitas. Misalnya isu harus orang Jawa, harus orang Sumatera, harus orang Sulawesi dan seterusnya. Itu semua adalah bagian dari politik identitas yang etnisitas primordialisme.
Isu politik identitas sengaja ditiupkan terus oleh kelompok tertentu yang ketakutan kalah dan tidak senang Islam bersatu. Inilah politik adu domba antar umat yang tidak produktif dan merusak semangat demokrasi.
Munculnya isu politik identitas itu juga tidak lepas dari upaya untuk mendiskreditkan kelompok Islam tertentu, karena isu politik identitas dinilai sangat ampuh untuk melumpuhkan rival politik, upaya elit politik tertentu dengan motif niat jahat untuk membonsai popularitas dan keterpilihan tokoh kandidat lawan tanding yang dinilai sangat kuat dan mendapat simpati masyarakat luas, terutama pemilih terbesar umat Islam.
Wassalam.
Prof Abd Rasyid Masri
Akademisi dan Pebisnis

*disadur dari https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/politik-identitas-menuju-pemilu-presiden