Dari korupsi yang jadi hobi elit, tawuran yang jadi olahraga remaja, hingga internet yang jadi guru seks dan kekerasan, kita sedang menyaksikan sebuah bangsa yang lupa caranya malu.
Oleh: F Turbina
Jurnalis
INI tulisan tentang dekadensi moral masyarakat Indonesia.
Kalau ada satu hal yang bisa kita pelajari dari satu dekade terakhir di Indonesia, itu adalah bahwa moralitas manusia itu seperti bawang: membukanya membuatmu menangis, tapi membiarkannya tertutup membuatmu bertanya-tanya apa yang busuk di dalamnya.
Sepuluh tahun terakhir, dari 2015 hingga 2025, kita telah menyaksikan sebuah parade panjang kemerosotan moral yang begitu megah, sampai-sampai kita bisa menjual tiket masuknya. Dari pejabat yang korup sampai remaja yang tawuran dengan semangat seperti sedang audisi film gladiator, Indonesia telah menjadi laboratorium raksasa untuk membuktikan bahwa manusia bisa jatuh lebih rendah dari yang pernah kita bayangkan—dan tetap tersenyum sambil melakukannya.
Saya tidak bilang semua orang di negeri ini sudah kehilangan akal sehat atau nurani. Masih ada yang baik, tentu saja—tapi mereka seperti lalat di tengah lautan kecoa: jumlahnya sedikit, dan keberadaannya hampir tak terdeteksi.
Mari kita telusuri dekadensi moral ini dengan gaya santai, tapi jangan salah, saya akan menusuk tepat di mana itu sakit. Dan karena saya bukan hakim atau algojo, saya akan serahkan pada Anda untuk memutuskan siapa yang pantas dapat medali emas dalam lomba merusak moral ini—meskipun, saya dilarang menunjuk siapa yang layak mati. Jadi, duduklah, ambil secangkir kopi, dan mari kita mulai.
Apa Itu Dekadensi Moral?
Sebelum kita masuk ke contoh-contohnya, mari kita sepakat dulu apa yang kita bicarakan.
Dekadensi moral adalah saat nilai-nilai baik yang dulu kita pegang—seperti kejujuran, sopan santun, atau sekadar rasa malu—mulai rontok seperti daun di musim gugur.
Di Indonesia, yang terkenal dengan keramahan dan adat ketimurannya, kita seolah-olah sedang menyaksikan transformasi dari “bangsa yang sopan” menjadi “bangsa yang sopan kalau ada kameranya”.
Penyebabnya? Banyak. Globalisasi, teknologi, media sosial, dan tentu saja, kebiasaan lama kita untuk menyalahkan orang lain alih-alih introspeksi.
Saya tidak akan membosankan Anda dengan teori sosiologi yang berat—lagipula, saya bukan dosen yang dibenci mahasiswa. Tapi bayangkan moralitas sebagai pagar kayu di tepi jurang: dulu kokoh, sekarang reyot, dan kita malah asyik main lompat tali di dekatnya. Nah, dalam 10 tahun terakhir, pagar itu tidak cuma reyot—beberapa bagian sudah dicuri untuk kayu bakar.
Korupsi: Hobi Nasional yang Tak Pernah Usang
Kalau ada Olimpiade untuk korupsi, Indonesia pasti pulang bawa emas, perak, dan perunggu—plus suvenir untuk panitia. Dalam dekade terakhir, kita telah melihat pejabat tinggi, dari gubernur sampai menteri, memperlakukan uang rakyat seperti tabungan pribadi yang lupa ditutup.
Contohnya? Kasus e-KTP pada 2017 yang melibatkan Setya Novanto—seorang ketua DPR yang seharusnya jadi teladan, malah jadi bintang tamu di pengadilan dengan drama pingsan yang lebih teatrikal daripada sinetron. Proyek senilai Rp5,9 triliun itu dikorupsi hingga negara rugi Rp2,3 triliun. Dan apa hukumannya? Penjara yang lebih mirip hotel bintang tiga, lengkap dengan fasilitas yang bikin kita bertanya: “Ini hukuman atau liburan?”
Lalu ada kasus Rafael Alun Trisambodo, eks pejabat pajak yang pada 2023 ketahuan punya harta Rp56 miliar—jumlah yang sulit dijelaskan dengan gaji pegawai negeri biasa. Anaknya, Mario Dandy, malah jadi bonus cerita dengan kasus penganiayaan brutal yang viral karena gaya hidup mewahnya. Ini bukan cuma korupsi biasa; ini korupsi dengan swagger.
Moralitas di sini sudah bukan lagi soal benar atau salah, tapi soal “bisa kabur atau tidak”. Dan yang paling lucu? Kita masih kaget setiap ada kasus baru, padahal ini seperti menonton ulangan sinetron yang sama dengan aktor berbeda.
Tawuran Pelajar: Gladiator Cilik dengan Seragam Sekolah
Kalau Anda pikir gladiator cuma ada di zaman Romawi, coba lihat tawuran pelajar di Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir, anak-anak berseragam putih-abu dan putih-biru ini telah mengubah jalanan kota menjadi arena pertarungan berdarah—lengkap dengan celurit, bambu runcing, dan semangat yang entah dari mana datangnya.
Pada 2018, misalnya, data dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta mencatat ada 1.318 siswa terlibat tawuran, dengan 26 di antaranya tewas. Dua puluh enam nyawa hilang bukan karena perang atau bencana, tapi karena adu jago di lampu merah.
Baru-baru ini, pada 2024, viral video tawuran di Bogor yang berakhir dengan seorang pelajar SMK tewas dibacok di wajahnya. Pelakunya? Tiga anak berseragam sekolah lain, yang sepertinya menganggap senjata tajam adalah aksesori wajib seperti dasi.
Apa moralitas di sini? Hilang entah ke mana. Sekolah, yang seharusnya jadi tempat belajar, malah jadi ajang latihan jadi preman. Dan orang tua? Banyak yang cuma bisa menggelengkan kepala sambil bilang, “Anak zaman sekarang,” tanpa bertanya apa yang salah dengan pola asuh mereka sendiri.
Seks Bebas dan Pornografi: Ketika Internet Jadi Guru Utama
Dalam dekade terakhir, internet telah menjadi guru besar bagi remaja Indonesia—sayangnya, pelajaran yang didapat sering kali bukan matematika atau sejarah, tapi pornografi dan gaya hidup bebas. Survei BKKBN pada 2017 menemukan bahwa 63% remaja SMP dan SMA pernah berhubungan seks di luar nikah. Angka ini mungkin sudah naik sekarang, mengingat akses ke konten dewasa semakin mudah.
Pada 2020, seorang dosen UMY, Sony Adi Setiawan, menyebut ada 750-900 video porno buatan remaja beredar setiap tahun—90% dibuat oleh pelajar SMP hingga mahasiswa. Ini bukan cuma dekadensi moral; ini industri rumahan yang salah arah.
Contoh nyata? Kasus pemerkosaan beramai-ramai di Maluku Tengah pada 2019, di mana seorang siswi SMA diperkosa 17 teman sekelasnya hingga trauma berat. Atau kasus di Sukabumi pada 2014 yang terus berulang hingga 2020-an, di mana seorang pria bernama Emon mencabuli puluhan anak—dan dia sendiri mengaku belajar dari pengalaman jadi korban. Internet, yang seharusnya membuka pintu pengetahuan, malah jadi pintu masuk ke dunia tanpa batas moral.
Dan pemerintah? Sibuk memblokir situs, tapi lupa mendidik anak-anak agar tak mencarinya.
Bullying dan Kekerasan: Hobi Baru Generasi Digital
Media sosial telah memberi kita panggung untuk pamer kebaikan—dan kejahatan. Dalam 10 tahun terakhir, bullying tak lagi cuma soal ejekan di kelas; sekarang ada versi digitalnya yang lebih kejam.
Pada 2023, KPAI mencatat 723 kasus kekerasan di satuan pendidikan, dengan 87 di antaranya adalah bullying. Salah satu yang viral adalah kasus di Cilacap pada 2022, di mana seorang siswa SMP dipukuli teman-temannya hingga babak belur—dan direkam untuk konten TikTok.
Lalu ada kasus Mario Dandy pada 2023 tadi, yang menganiaya seorang remaja hingga koma hanya untuk pamer kekuatan. Ini bukan cuma kekerasan fisik; ini kekerasan dengan branding.
Moralitas di sini sudah digantikan oleh like dan view. Anak-anak zaman sekarang sepertinya percaya bahwa jadi penutup buku lebih penting daripada jadi manusia yang punya hati.
Narkoba: Pesta yang Merenggut Jiwa
Narkoba bukan hal baru, tapi dalam dekade terakhir, penyebarannya di kalangan remaja makin gila-gilaan. Pada 2018, BNN melaporkan 3,9% remaja Indonesia—sekitar 1,1 juta jiwa—terlibat narkoba.
Fast forward ke 2024, kasus seperti “tembakau gorilla” atau sabu-sabu murah makin marak di kota-kota kecil. Contohnya, razia di sebuah diskotek di Jakarta pada 2023 yang menemukan puluhan remaja di bawah umur positif narkoba—beberapa baru 15 tahun.
Moralitas? Hilang di balik asap dan euforia sesaat. Yang lebih tragis, banyak dari mereka mencuri atau merampok untuk membiayai kecanduan ini—membuktikan bahwa dekadensi moral itu seperti domino: satu jatuh, yang lain ikut tumbang.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Saya bisa terus menulis contoh sampai Anda bosan—dan mungkin Anda sudah mulai menguap sekarang. Tapi intinya jelas: dalam 10 tahun terakhir, moralitas masyarakat Indonesia telah jatuh ke titik yang membuat kita bertanya, “Apa lagi yang tersisa?”
Dari korupsi yang jadi hobi elit, tawuran yang jadi olahraga remaja, hingga internet yang jadi guru seks dan kekerasan, kita sedang menyaksikan sebuah bangsa yang lupa caranya malu.
Tapi jangan putus asa dulu. Mark Twain pernah bilang, “Manusia adalah satu-satunya hewan yang bisa tersipu malu—atau perlu tersipu malu.”
Masih ada harapan kalau kita mau mulai dari diri sendiri: ajarkan anak-anak nilai yang benar, jauhkan mereka dari layar yang meracuni, dan mungkin, sekali-sekali, lihat ke cermin sebelum menyalahkan dunia. Karena kalau tidak, satu dekade lagi, kita mungkin cuma akan jadi penonton di sirkus moral yang lebih besar—dan saya yakin, tiketnya akan mahal sekali.

