“Selat Hormuz kini berubah menjadi titik panas konflik setelah Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal dan fasilitas minyak di Uni Emirat Arab”
Mata Hukum, Jakarta – Ketegangan geopolitik global saat ini sedang memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa pekan terakhir.

Dimana Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia, kini berubah menjadi titik panas konflik setelah Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal dan fasilitas minyak di Uni Emirat Arab (UEA).

Ironisnya, aksi militer Iran justru datang sebagai respons instan terhadap pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal Project Freedom.

Operasi yang digadang-gadang sebagai “penyelamat” jalur pelayaran internasional itu malah memicu gelombang serangan balasan dalam hitungan jam. Namun alih-alih meredakan ketegangan, operasi tersebut justru memicu respons keras dari Teheran.
Serangan Balasan Iran, Kapal dan Pelabuhan Jadi Sasaran

Pada Senin 4 April 2026 waktu setempat, Iran dilaporkan menyerang beberapa kapal di Selat Hormuz. Bahkan, sebuah pelabuhan minyak penting di wilayah Fujairah, UEA, dilaporkan terbakar setelah dihantam drone.
Fujairah selama ini dikenal sebagai jalur alternatif ekspor minyak yang tidak melewati Selat Hormuz, sehingga serangan ini menandai perluasan target strategis Iran. Kementerian luar negeri Korea Selatan juga mengonfirmasi bahwa salah satu kapal dagangnya mengalami ledakan dan kebakaran di wilayah tersebut.
Sementara itu, dikutip pada, Selasa 5 Mei 2026 pihak otoritas maritim Inggris melaporkan dua kapal lain turut menjadi sasaran serangan di dekat perairan UEA.
Perusahaan minyak nasional UEA, ADNOC, menyebut salah satu kapal tanker kosong mereka diserang drone saat mencoba melintasi jalur tersebut. Misi AS Dipertanyakan, Iran Klaim Kuasai Perairan Militer AS bersikukuh menyatakan telah berhasil mengawal dua kapal dagangnya melintasi Selat Hormuz dalam kondisi aman. Namun klaim itu langsung dihempaskan oleh Teheran.
Garda Revolusi Iran dengan tegas menyatakan: nol kapal komersial berhasil menembus selat dalam beberapa jam terakhir.
Sebagai “bukti,” mereka merilis peta baru yang memperluas garis kendali maritim Iran termasuk mencaplok sebagian perairan yang semula statusnya internasional.
Tak tinggal diam, Komandan Pasukan AS di kawasan, Laksamana Brad Cooper, balik melontarkan klaim keras: pihaknya telah menghancurkan enam kapal kecil Iran dan memberi ultimatum agar pasukan Teheran menjauhi aset-aset militer Amerika. Namun, pernyataan ini kembali dibantah oleh Teheran.
Trump Dorong Negara Lain Ikut Campur
Melalui media sosial, Trump menyebut Iran telah menyerang kapal dari negara lain, termasuk Korea Selatan.
“Iran telah menembaki negara-negara yang tidak terkait dengan pergerakan kapal dalam Project Freedom, termasuk kapal kargo Korea Selatan. Mungkin sudah saatnya Korea Selatan ikut bergabung dalam misi ini,” tulis Trump.
Ajakan Trump untuk “bergabung” dalam misi ini pada dasarnya adalah upaya mengumpulkan sekutu. Sayangnya, sampai saat ini Washington tampak berjalan sendirian.

