Sosok Irawati Puteri, Mantan SPG Chicken Nugget Raih Beasiswa S2 di Stanford

0

“Berusaha untuk menggabungkan keilmuannya di bidang hukum untuk membuat kebijakan pendidikan yang lebih berkualitas, mengerti akan konsep ketidakadilan dan juga kemiskinan struktural, multidisiplin, research-based, dan menyentuh sampai kepada akar rumputnya”

Irawati Puteri. (Foto foto Dok Instagram/@irawatiputeri)

Mata-Hukum, Jakarta – Ramai menjadi sorotan sosok Irawati Puteri, seorang mantan Sales Promotion Girl (SPG) produk chicken nugget yang menginspirasi publik dengan prestasinya. Hal tersebut dikarenakan ia diterima untuk bisa melanjutkan pendidikan S2-nya di Stanford University, California.

Ia dibiayai penuh oleh Pemerintah Indonesia melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau yang dikenal dengan nama LPDP.

Perempuan yang akrab disapa Ira ini bisa membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi sebuah alasan untuk patah semangat.

Ira menceritakan dirinya tumbuh dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi luar biasa. Ayah dan ibunya
diketahui mengandalkan pekerjaan serabutan untuk bisa menghidupi ketiga anaknya, tidak terkecuali Ira.

Namun, ayah Ira sendiri selalu mengajarkan kepada Ira dan saudara-saudaranya untuk tidak kalah dengan kondisi yang ada. Akhirnya jadilah sosok Ira yang pantang menyerah untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga bisa mendapatkan beasiswa di salah satu universitas ternama di luar negeri.

Lantas, seperti apakah profil dan perjalanan Irawati Putri yang raih beasiswa tersebut? Simak informasi lengkapnya berikut ini.

Profil Irawati Puteri

Irawati Puteri. (Foto foto Dok Instagram/@irawatiputeri)

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), Ira kerap dibantu keringan keuangan dan juga beasiswa. Bahkan diketahui Ira pernah melihat adiknya sendiri putus sekolah karena keterbatasan biaya.

Karena tidak ingin kejadian tersebut terulang, Ira pun kemudian memutuskan untuk mengajar les agar bisa mendapatkan uang..

Pada saat duduk di bangku SMA, Ira mendapatkan potongan biaya sekolah yang sangat besar karena prestasinya tersebut. Ia mengikuti beragam perlombaan akademik.

Mulanya, Ira mengikuti lomba untuk mendapatkan uang. Namun takdir berkata lain. Ternyata perlombaan tersebut justru berhasil mengantarkan Ira untuk meraih kesuksesannya.

Tidak hanya mengikuti perlomban, Ira juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu sebagai SPG produk chicken nugget. Melalui akun Twitternya, ia menceritakan alasan memilih pekerjaan tersebut karena tidak ada minimal tinggi badan.

Di sisi lain, belum ada banyak pilihan opsi pekerjaan sampingan di luar mengajar les pada saat itu. Uang hasil kerja kerasnya pun digunakan untuk membayar kontrakan.

Ira pun kemudian memanfaatkan waktu luangnya selama menjadi SPG dengan mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi.

Singkat cerita, Ira pun berhasil lolos seleksi di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran dengan jalur SBMPTN dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui jalur SIMAK UI.

Dari situ, Ira kemudian memutuskan untuk berkuliah di UI karena jaraknya mudah ditempuh dan bisa lebih menghemat pengeluarannya untuk biaya akomodasi.

Ia juga pernah menjadi Best Speaker dalam lomba debat di Fakultas Hukum UI. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi pemilihan jurusan pada saat kuliah.

Tidak hanya itu, Ira juga memiliki cita-cita untuk menyelesaikan isu-isu ketidakadilan struktural sehingga keputusannya memilih Fakultas Hukum semakin bulat dan kuat.

Sampai akhirnya ia berkuliah selama 4,5 tahun dan meraih beragam prestasi dengan berbagai perlombaan debat. Selama berkuliah, Ira juga pernah menjadi Ketua Debat Hukum Organisasi Debat FH UI.

Kemudian Ira bekerja untuk menjadi Legal and Policy Manager di sebuah Law Firm. Pekerjaan tersebut dilakoninya sejak masih kuliah di semester 7.

Menjadi orang Indonesia pertama di jurusannya

Ira sukses diterima untuk menempuh pendidikan S2 di Stanford University Amerika Serikat. Sosoknya dinyatakan lolos menjadi mahasiswi jurusan International Comparative Education and International Education Policy Analysis.

Jurusan tersebut dikabarkan hanya menerima sebanyak 20 orang saja per angkatan dari seluruh penjuru dunia. Hal tersebut menjadi kebanggaan tentunya bagi Ira dan masyarakat Indonesia.

Yang lebih membanggakan lagi, Ira menjadi mahasiswi Indonesia pertama yang berhasil diterima di jurusan tersebut. Ira pun bertekad untuk membuat kebijakan pendidikan yang berfokus kepada masyarakat marjinal.

Ia juga berusaha untuk menggabungkan keilmuannya di bidang hukum untuk membuat kebijakan pendidikan yang lebih berkualitas, mengerti akan konsep ketidakadilan dan juga kemiskinan struktural, multidisiplin, research-based, dan menyentuh sampai kepada akar rumputnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *