Sosok Reda Manthovani, Kajati DKI Jakarta Sempat Tawarkan Restorative Justice pada Kasus David

0

“Sebelum bertugas di Kejati DKI Jakarta, Reda Manthovani sempat bertugas di sejumlah kejaksaan. Pernah menjadi Kabag TU pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada 2011. Reda Manthovani juga menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Cilegon, Banten”

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani. (Istimewa)

Mata-Hukum, Jakarta – Nama Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, Reda Manthovani, mendadak jadi sorotan publik.

Hal itu dikarenakan Reda Manthovani sempat menawarkan restorative justice atau upaya damai terhadap kasus penganiayaan David Ozora Latumahina (17).

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. (Istimewa)

Hal itu disampaikan Reda Manthovani ketika menjenguk David di RS Mayapada, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Kamis 16 Maret 2023 lalu.

Namun tawaran restorative justice langsung ditolak oleh keluarga David yang diwakili kuasa hukumnya.

Keluarga David tetap mendorong penyelesaian kasus ini secara hukum hingga ke persidangan.

Para tersangka saat menjalani rekontruksi kasus penganiyaan terhadap David Ozora Latumahina. (Istimewa)

Lantas, siapakah sosok Reda Manthovani?

Inilah profil Reda Manthovani yang dirangkum dari berbagai sumber:

  1. Biodata Reda Manthovani

Reda Manthovani merupakan jaksa sekaligus akademisi di bidang penegakan hukum.

Dok Instagram/@reda.manthovani

Dikutip dari kejari-jakbar.go.id, Reda Manthovani lahir di Jakarta pada 20 Juni 1969.

Sehingga saat ini, usianya 53 tahun.

Reda Manthovani menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Pancasila (1988-1992) dan mendapat gelar Sarjana Hukum.

Dok Instagram/@reda.manthovani

Ia lantas melanjutkan jenjang pendidikannya untuk mendapatkan gelar S2 di Faculté de Droit de l’UniversitédAix, Marseille III France pada 2001-2002.

Untuk memperdalam bidang keilmuannya, Reda Manthovani kembali bersekolah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani. (Istimewa)

Di UI, Reda Manthovani sukses meraih gelar Doktor.

  1. Reda Manthovani Jadi Dosen

Selain sebagai jaksa, Reda Manthovani juga menjadi Dosen dengan Perjanjian Kerja program studi Ilmu Hukum, Universitas Pancasila.

Dok Instagram/@reda.manthovani

Dikutip dari pddikti.kemdikbud.go.id, statis aktivitas Reda Manthovani pun aktif.

Sejumlah mata kuliah pernah diajarkan Reda Manthovani pada para mahasiswanya sejak 2007.

Mulai dari Perbandingan Hukum Pidana, Teori Kebudayaan, Hukum Pidana Transnasional, hingga Hukum Pidana Internasional.

Dok Instagram/@reda.manthovani

Sebagai pendidik, ia telah melahirkan karya-karya dalam bentuk buku.

Adapun buku yang pernah ditulis oleh Reda Manthovani di antaranya: Rezim Anti Pencucian Uang dan Perolehan Hasil Kejahatan.

Termasuk Panduan Jaksa Penuntut Umum dalam: Penanganan Harta Hasil Perolehan Kejahatan dan Problematika Penuntutan Kejahatan Cyber di Indonesia.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani. (Istimewa)
  1. Jejak Karier Reda Manthovani

Sebelum bertugas di Kejati DKI Jakarta, Reda Manthovani sempat bertugas di sejumlah kejaksaan.

Ia pernah menjadi Kabag TU pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada 2011.

Pada tahun 2012, Reda Manthovani juga menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Cilegon, Banten.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. (Istimewa)

Satu tahun berselang, ia dipercaya menempati posisi Kepala Bagian Kerjasama Luar Negeri Kejaksaan Agung RI (2013).

Selain aktif di Tanah Air, ia juga dipercaya menjadi konsultan Hukum atau Kejaksaan pada Konsulat Jenderal RI di Hong Kong (2014-2015).

Dok Instagram/@reda.manthovani

Pada pertengahan 2015, Reda Manthovani mulai aktif menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat.

Terakhir pada Februari 2022, Reda Manthovani dipercaya menjadi Kepala Kejati DKI Jakarta.

  1. Aktif di Media Sosial

Dari penelusuran Tribunnews.com, Reda Manthovani cukup aktif di media sosial.

Ia memiliki akun Instagram dengan nama @reda.manthovani yang kerap dipakai untuk mengunggah sejumlah kegiatannya.

Seperti saat ia menjenguk David di RS pada Kamis 16 Maret 2023.

Dok Instagram/@reda.manthovani

Reda Manthovani sempat bertemu dengan ayah David, Jonathan Latumahina termasuk melihat kondisi David yang masih terbaring di ranjang.

Reda Manthovani juga mengunggah momen saat memberikan keterangan kepada sejumlah awak media.

“David cepat pulih yaa, 16323,” tulis @reda.manthovani seperti dikutip pada Minggu 19 Maret 2023.

Sayangnya, postingan itu penuh dengan komentar warganet yang mempertanyakan pernyataan Reda Manthovani terkait penawaran restorative justice pada kasus penganiayaan David.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. (Istimewa)
  1. Penjelasan Reda Manthovani

Setelah ramai dengan pernyataan itu, Reda Manthovani memberikan klarifikasi.

Reda menerangkan, dirinya memberikan penawaran restorative justice kepada keluarga David atas AG (15) yang masih di bawah umur.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. (Istimewa)

Sebab, AG merupakan anak yang berhadapan dengan hukum dan pihaknya sebagai penegak hukum ingin memberikan diversi.

Diversi berarti pengalihan penyelesaian perkara pidana anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

“Statement itu semata-mata hanya mempertimbangkan masa depan anak sebagaimana diatur dalam UU Perlindungan Anak,” kata Reda saat dikonfirmasi wartawan pada Jumat 17 Maret 2023.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Reda Manthovani. (Istimewa)

Apalagi dalam perkara yang membuat David koma, AG tidak turut secara langsung menganiaya.

Namun, jika keluarga David tetap bulat ingin memenjarakan AG karena terlibat penganiayaan, maka Kajati DKI akan menutup ruang restorative justice.

Tak hanya itu, Kejaksaan juga akan menilai apakah AG berperan signifikan dalam perkara penganiayaan David.

Jika hasil penelitian berkas perkara menyimpulkan AG bukan penyebab penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy, maka Kejaksaan membuka peluang restorative justice (RJ).

“Itu tergantung penelitian berkas perkara. Kalau memang pengendali kejahatannya bukan dia kan ya bisa (restorative justice),” ujar Reda.

Namun ditekankan Reda, RJ hanya bisa terwujud saat ada persetujuan dari pihak korban, yang dalam hal ini David Ozora atau diwakili keluarganya.

“Restorative justice hanya dapat dilaksanakan apabila ada pemberian maaf oleh korban atau keluarga,” katanya.

Adapun jika hasil penelitian berkas menunjukkan AG berperan signifikan hingga menyebabkan penganiayaan, maka dipastikan perkaranya akan terus berlanjut hingga persidangan.

“Kalau memang ternyata kompornya, pelaku utamanya si AG, waduh itu enggak bisa (restorative justice) sama sekali walaupun dia anak,” kata Reda.

Dari berbagai sumber/ matahukum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *