“Badai NTB: Saat saya kecil, Bapak saya hidup dengan pekerjaan yang tidak pernah pasti. Hari ini menjadi kusir benhur, besok masuk hutan mencari madu, di waktu lain melaut, atau menjadi buruh musiman di kebun bawan”
Mata Hukum, Jakarta – Orang tua saya keduanya tidak ada satupun yang mengenyam bangku sekolah dasar. Mereka tidak pernah berbicara tentang perjuangan, apalagi aktivisme.

Mereka tidak mengenal istilah-istilah besar yang sering digunakan di ruang publik. Namun justru dari ketidaktahuan itulah saya belajar keteguhan yang paling dasar, bertahan tanpa mengeluh, berjalan tanpa menuntut pengakuan.
Saat saya kecil, Bapak saya hidup dengan pekerjaan yang tidak pernah pasti. Hari ini menjadi kusir benhur, besok masuk hutan mencari madu, di waktu lain melaut, atau menjadi buruh musiman di kebun bawang milik orang lain. Tidak ada kalender tetap, tidak ada gaji bulanan. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah, ia pulang membawa rasa tanggung jawab.Saya jarang melihat bapak saya marah pada keadaan. Ia tidak memaki nasib, tidak menyalahkan siapa pun. Ia bekerja, pulang, dan memastikan keluarganya tetap berdiri. Dari situ saya belajar bahwa keteguhan bukan tentang kerasnya suara, tetapi tentang konsistensi menjalani apa yang harus dijalani.
Ibu saya berbeda. Jika bapak saya mengajarkan keteguhan lewat kerja, ibu saya menanamkannya lewat doa. Ia tidak banyak bicara, tetapi kesunyiannya penuh isi. Setiap malam, ketika rumah telah tenang dan suara desa mereda, ia bangun untuk shalat. Dalam doa-doanya, ia menyebut satu per satu nama kami anak-anaknya, memohon agar kami dijaga. Ibu tidak pernah meminta agar kami menjadi orang besar. Ibu hanya meminta agar kami tidak tersesat. Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi di kemudian hari saya memahami betapa berat maknanya. Tidak tersesat berarti tetap tahu batas, bahkan ketika dunia menawarkan banyak jalan pintas.
Doa ibu saya tidak pernah saya dengar secara utuh. Tetapi saya tahu, doa itu hadir di saat-saat paling sulit. Ketika saya mulai mengambil jalan yang berisiko, ketika nama saya mulai dibicarakan dengan nada tidak ramah, ketika tekanan datang dari berbagai arah, saya tidak pernah merasa benar-benar sendirian. Ada pagar tak terlihat yang menjaga agar saya tidak melangkah terlalu jauh dari nilai yang saya pegang.
Orang tua saya tidak pernah melarang saya bersuara. Mereka juga tidak pernah mendorong saya menjadi apa pun. Mereka hanya memastikan satu hal, bahwa apa pun yang saya lakukan, saya melakukannya dengan cara yang tidak mempermalukan diri sendiri dan keluarga. Prinsip itu sederhana, tetapi justru menjadi jangkar ketika godaan kompromi muncul di kemudian hari.
Dalam keluarga kami, harga diri tidak diukur dari harta atau status, tetapi dari cara menghadapi hidup. Tidak mengambil yang bukan hak. Tidak menjual diri untuk kenyamanan sesaat. Tidak menukar kebenaran dengan rasa aman palsu. Ketika saya memilih berdiri di jalan yang penuh risiko, saya tahu orang tua saya tidak sepenuhnya memahami medan yang saya hadapi. Tetapi mereka memahami satu hal, bahwa setiap anak harus berjalan di jalannya sendiri, dan tugas orang tua adalah mendoakan agar langkah itu tidak melenceng.
Keteguhan yang saya miliki hari ini bukanlah hasil latihan mental atau bacaan filsafat yang rumit. Ia tumbuh dari rumah yang sederhana, dari orang tua yang tidak mengenal teori, tetapi menjalani nilai dengan setia. Dan dari doa yang tidak pernah meminta hidup mudah, hanya meminta agar kami tetap lurus.
Ngali, 24 Maret 2026
Sumber Facebook Badai NTB

