Turki Tarik Duta Besarnya untuk Israel, Presiden Erdogan Putuskan Komunikasi dengan PM Netanyahu

0

“Netanyahu bukan lagi seseorang yang bisa kita ajak bicara. Kami telah menghapusnya,”

Mata-Hukum, Jakarta – Turki memanggil pulang duta besarnya untuk Israel Sakir Ozkan Torunlar imbas serangan Israel ke Gaza.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan memutuskan komunikasi dengan Perdana Menteri Netanyahu. Namun demikian, Turki tidak memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel karena konflik di Gaza.

Pemerintah Turki mengatakan penarikan duta besar tersebut guna berkonsultasi terkait pengeboman yang tiada henti yang dilancarkan Israel di Gaza dan semakin memburuknya situasi kemanusiaan di kantong yang telah terkepung.

Presiden Erdogan mengatakan memutuskan komunikasi dengan PM Netanyahu pada Jumat 3 November 2023.

“Netanyahu bukan lagi seseorang yang bisa kita ajak bicara. Kami telah menghapusnya,” demikian pernyataan Erdogan yang dikutip Aljazeera dari media turki.

Turki memastikan hubungan kedua negara tetap berjalan. Intelijen turki masih menjalin kontak dengan Israel dan otoritas Palestina.

Bulan lalu, para diplomat Israel telah meninggalkan Turki karena alasan keamanan akibat aksi unjuk rasa pro Palestina meletus di penjuru negara.

2.326 Perempuan dan 3.760 Anak Meninggal di Gaza Akibat Serangan Israel per 3 November 2023

Sebanyak 2.326 perempuan dan 3.760 anak-anak telah meninggal di jalur Gaza hingga Jumat, 3 November 2023.

Ini mewakili 67 persen dari seluruh korban jiwa akibat serangan Israel, sementara ribuan lainnya terluka menurut data Kementerian Kesehatan Palestina.

Artinya, 420 anak terbunuh atau terluka setiap harinya, beberapa di antaranya baru berusia beberapa bulan.

Kondisi ini diperparah dengan layanan kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak-anak yang sangat terganggu.

Pengeboman membuat fasilitas kesehatan jadi rusak hingga tidak dapat difungsikan. Di sisi lain, padatnya pengungsian, berkurangnya pasokan air dan listrik, serta terbatasnya akses terhadap makanan dan obat-obatan jadi tantangan berikutnya.

Diperkirakan ada 50.000 perempuan hamil di Gaza dan lebih dari 180 kelahiran setiap hari. Sebanyak 15 persen dari mereka kemungkinan besar mengalami komplikasi terkait kehamilan atau kelahiran dan memerlukan perawatan medis tambahan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) para perempuan ini tidak dapat mengakses layanan obstetrik darurat yang mereka perlukan untuk melahirkan dengan aman dan merawat bayi mereka yang baru lahir.

Dengan ditutupnya 14 rumah sakit dan 45 pusat layanan kesehatan dasar, beberapa perempuan harus melahirkan di tempat penampungan, di rumah, di jalanan, di tengah reruntuhan, atau di fasilitas kesehatan yang kewalahan.

Fasilitas kesehatan di Gaza pun kini dihadapkan dengan kondisi sanitasi yang memburuk, sementara terdapat risiko infeksi serta komplikasi medis sedang meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *